Rabu, 25 Agustus 2010

Mbah Jilah Pijat Bayi

Profesi ini mulai tergantikan dengan klinik-klinik fisioterapi. Lebih profesional, lebih canggih, tapi mungkin ada yang kurang…, ini masih mungkin lho. Kalau dukun pijat bayi memijat dengan kasih sayang, dengan sentuhan cinta, karena profesi ini bisa dikatakan turun temurun sehingga dia bisa akrab dan hidup dalam sebuah simphoni yang utuh dengan bayi-bayi yang dipijatnya. Dia bisa merasakaan getaran dalam tubuh bayi yang membuat tangannya bagai mata yang mampu menghasilkan pijatan cinta. Kami mulai merasa kesulitan mencari dukun pijat bayi di Surabaya, yang kami tahu ada Klinik fisioterapi yang juga melayani pijat bayi, selain sedot lendir kalau bayi kita terkena pilek dan batuk. Pernah saya mencoba, tapi seperti yang saya utarakan diatas, ada yang kurang…sentuhan cinta.

Kebiasaan orang Jawa memang kalau lagi hamil dipijat, konon untuk menata letak bayi agar pada saat hari H launching bisa lancar karena “bayine wis manggon ing dalane” posisi bayinya sudah pas ditempatnya. Bagi kami selama itu demi kebaikan, bisa saya terima dengan satu niatan Lillahi ta’ala Semoga Allah Ridho. Mbah Jilah ini bagi kami seorang pribadi yang menarik. Awal ketemu beliau, agak kaget juga karena penampilan fisiknya jauh lebih muda dari usia, beliau orangnya sangat egaliter, friendly, bersahabat, grapyak.

Mbah Jilah, kali ini saya memijatkan Zahra. Jujur dalam hati kecilku ingin dapat pelajaran hikmah lagi. Pas lagi mijat beliau ini bertanya ”bagaimana Zahra?”, “ Nangis terus semalaman Mbah”, jawabku. “ Gak opo-opo nanti kan kalo sudah dipijat insya allah enak ya...Zahra ?”, Saya bicara lagi dengan Mbah Jilah.
“Belum bisa apa-apa Mbah, masih digendong terus, sering rewel mbah, nggak tahu Mbah kok badannya juga Belem bisa gemuk betul ” (Biasanya kaum ibu suka begitu, khawatir anaknya belum bisa begini, belum bisa begitu, anak tetangga sudah begitu, anak saya kok belum?syndrom ibu-ibu. Semoga para ibu tidak marah dengan statemen saya yang semoga salah. Padahal anak-anak kan punya keunikan sendiri-sendiri dan yang jelas lain dari yang lain, ya?) “Ndak papa ya Gus, wong pancen durung di kongkon gedhe kok, sembarang ana titi wancine.” (“Nggak papa anak bagus, memang belum disuruh besar kok, semua ada waktunya”) Sengaja saya tulis dalam bahasa Jawa karena esensi bahasa Jawa kadang lebih dalam jika diterjemahkan dalam bhs Indonesia.

Jawaban sederhana, tapi justru itulah letak kelebihannya. Saya merasakan jawaban itu bukan sekedar sederhana, namun penuh muatan ketauhidan dan hanya bisa diberikan oleh mereka yang telah akrab dengan diri dan Tuannya. Beliau tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini ada yang mengatur, ada yang menitahkan, dan yang menitahkan lebih tahu pada titik kapan sesuatu itu akan berlaku. Subhanallah.. hari ini satu pelajaran cinta telah kudapatkan. Kami pamitan dengan iringan do,a di hatiku, Semoga Allah membarakahi hidupnya, dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang dirihoi karena cintanya.

‘The person who loves others will also be loved in return.’
Best Regard to Mbah Jilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar