Profesi ini mulai tergantikan dengan klinik-klinik fisioterapi. Lebih profesional, lebih canggih, tapi mungkin ada yang kurang…, ini masih mungkin lho. Kalau dukun pijat bayi memijat dengan kasih sayang, dengan sentuhan cinta, karena profesi ini bisa dikatakan turun temurun sehingga dia bisa akrab dan hidup dalam sebuah simphoni yang utuh dengan bayi-bayi yang dipijatnya. Dia bisa merasakaan getaran dalam tubuh bayi yang membuat tangannya bagai mata yang mampu menghasilkan pijatan cinta. Kami mulai merasa kesulitan mencari dukun pijat bayi di Surabaya, yang kami tahu ada Klinik fisioterapi yang juga melayani pijat bayi, selain sedot lendir kalau bayi kita terkena pilek dan batuk. Pernah saya mencoba, tapi seperti yang saya utarakan diatas, ada yang kurang…sentuhan cinta.
Kebiasaan orang Jawa memang kalau lagi hamil dipijat, konon untuk menata letak bayi agar pada saat hari H launching bisa lancar karena “bayine wis manggon ing dalane” posisi bayinya sudah pas ditempatnya. Bagi kami selama itu demi kebaikan, bisa saya terima dengan satu niatan Lillahi ta’ala Semoga Allah Ridho. Mbah Jilah ini bagi kami seorang pribadi yang menarik. Awal ketemu beliau, agak kaget juga karena penampilan fisiknya jauh lebih muda dari usia, beliau orangnya sangat egaliter, friendly, bersahabat, grapyak.
Mbah Jilah, kali ini saya memijatkan Zahra. Jujur dalam hati kecilku ingin dapat pelajaran hikmah lagi. Pas lagi mijat beliau ini bertanya ”bagaimana Zahra?”, “ Nangis terus semalaman Mbah”, jawabku. “ Gak opo-opo nanti kan kalo sudah dipijat insya allah enak ya...Zahra ?”, Saya bicara lagi dengan Mbah Jilah.
“Belum bisa apa-apa Mbah, masih digendong terus, sering rewel mbah, nggak tahu Mbah kok badannya juga Belem bisa gemuk betul ” (Biasanya kaum ibu suka begitu, khawatir anaknya belum bisa begini, belum bisa begitu, anak tetangga sudah begitu, anak saya kok belum?syndrom ibu-ibu. Semoga para ibu tidak marah dengan statemen saya yang semoga salah. Padahal anak-anak kan punya keunikan sendiri-sendiri dan yang jelas lain dari yang lain, ya?) “Ndak papa ya Gus, wong pancen durung di kongkon gedhe kok, sembarang ana titi wancine.” (“Nggak papa anak bagus, memang belum disuruh besar kok, semua ada waktunya”) Sengaja saya tulis dalam bahasa Jawa karena esensi bahasa Jawa kadang lebih dalam jika diterjemahkan dalam bhs Indonesia.
Jawaban sederhana, tapi justru itulah letak kelebihannya. Saya merasakan jawaban itu bukan sekedar sederhana, namun penuh muatan ketauhidan dan hanya bisa diberikan oleh mereka yang telah akrab dengan diri dan Tuannya. Beliau tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini ada yang mengatur, ada yang menitahkan, dan yang menitahkan lebih tahu pada titik kapan sesuatu itu akan berlaku. Subhanallah.. hari ini satu pelajaran cinta telah kudapatkan. Kami pamitan dengan iringan do,a di hatiku, Semoga Allah membarakahi hidupnya, dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang dirihoi karena cintanya.
‘The person who loves others will also be loved in return.’
Best Regard to Mbah Jilah
Rabu, 25 Agustus 2010
Hadiah terbaik untuk diri ....
Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah keadaan yang diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin digoda oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan hidup ala anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencang-kencangnya dari godaan hidup sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun
Sadar akan hal inilah, kita harus sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti selu! ruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-keadaan ini.
'Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'. Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati
Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang ketika kita amat membutuhkannya.
Salam untuk Pakdhe Eko, Budhe Atik di Solo... juga Mbak Yuyun yang pintar...
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun
Sadar akan hal inilah, kita harus sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti selu! ruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-keadaan ini.
'Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'. Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati
Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang ketika kita amat membutuhkannya.
Salam untuk Pakdhe Eko, Budhe Atik di Solo... juga Mbak Yuyun yang pintar...
Bunda.....
Kedua tangannya yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.
Pada suatu hari, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya … dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata ini, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan yang begitu agung, tetapi tak satupun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu…
With Love to All Mother
...juga untuk Ayah...................
Langganan:
Komentar (Atom)